Selayang Pandang Sejarah Hari Nelayan Palabuhanratu
Sejarah ini diawali pada saat
runtuhnya kerajaan Pajajaran pada tahun 1449 Saka=tahun 1527 M yang dipimpin
oleh Prabu Surawisesa atau Ratu Sanghyang Portugis disebut Ratu Samiam (pantun
Bogor-arkais).
Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh
Prabu Surawisesa, pada waktu itu digempur dan diserang oleh pasukan Islam
Banten, Demak dan Cirebon, karena Prabu Surawisesa tidak mau memeluk agama
Islam. Sehingga ada seorang prajurit yang berkhianat atas perintah Jaya Antea
yang sudah masuk Islam dan belajar pesantren di daerah Banten (bekas prajurit
atau kopassus pajajaran) yang diperintahkan membuka lawang gintung atau pintu
gerbang yang hanya bisa dibuka di dalam kerajaan.
Kerajaan Pajajaran di bumi hanguskan
dan dibakar habis tidak tersisa, karena kerajaan Pajajaran bangunannya terbuat
dari kayu dan bambu. Oleh karena itu, hingga saat ini tidak terdapat situs atau
peninggalan rerun Tuhan kerajaan Pajajaran. Sedangkan raja dengan keluarganya
serta para prajuritnya terpaksa mengungsi dan menyelamatkan diri menjadi empat
kelompok.
Kelompok pertama dipimpin oleh raja
Prabu Surawisesa, ini adalah kelompok paling banyak, mereka pergi ke daerah
Tegal Buleud (Sukabumi Kidul sekarang) yang sebelumnya akan menuju Nusalarang
(pulau yang diakui oleh Australia yaitu Chrismast Island) tetapi tidak jadi
karena pada saat perjalanan mengunakan perahu melewati laut kidul diterjang
ombak besar dan perahu mereka hancur berantakan sehingga mereka ada yang
kembali lagi ke daerah dekat kraton kerajaan Pajajaran (Bogor dan sekitarnya),
ada yang ke wilayah Garut Wetan (yang kemudian membuat kerajaan kecil Sancang
Garut) dan sebagian ada yang ke Ujung Kulon dan sebagian kecil juga ada yang
ikut Raja Pajajaran karena mereka ingin bertapa sampai akhir hayatnya.
Kelompok ke dua dipimpin oleh tiga
bangsawan (gegeden) Bareusan Panganginan (pasukan husus penjaga pakuan atau
pengawal istana) yaitu: Demang Haurtangtu, Puun Buluh Panunjang, dan Guru Alas
Lintang Kendesan. Mereka membuat kelompok masyrakat yang disebut pager
panganginan (kampung Urus, Desa Kiara Pandak Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor
Kaler) dan sekarang pusatnya di kampung Citorek Kecamatan Bayah, dan di Sukabumi
Kidul yang berpusat di kampung Ciptarasa Kecamatan Cisolok. Walaupun terbagi
menjadi tiga wilayah yang berbeda tetapi mereka tetap bersatu dan tidak bisa
dipisahkan, sehingga mereka menyebut dengan Kesatuan Banten Kidul.
Kelompok ke tiga dipimpin oleh Prabu
Anom Yuwaraja putra mahkota Rahyang Santang Aria Cakrabuana (bukan Kian
Santang) mereka pergi menuju daerah sebelah kulon (barat) dan sekarang jadi
kapuunan dengan masyarakat Tangtu Parahyangan yang pusatnya di kampung Cibeo
desa Kanekes kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak.
Kelompok ke empat yang dipimpin
Purnamasari (puteri bungsu Raja Pajajaran dari istri yang ke 7) dan suaminya
Rahyang Kumbang Bagus Setra, dan didampingi oleh seorang puragabaya (kopasus)
yang bernama Rakean Kalang Sunda. Kelompok ke empat inilah yang menjadi cikal
bakal adanya asal mula kota Palabuhanratu yang pigur utamanya yaitu Putri
Purnamasari.
Dikisahkan dalam pengungsiannya,
Putri Purnamasari dikejar terus oleh Jaya Antea (mantan mantri majeuti atau
MENSESNEG sekarang) yang pada waktu itu sudah masuk Islam dan bergelar Syeikh
Al Kowana, karena Jaya Antea sangat mencintai Puteri Purnamasari, tetepai
cintanya tidak terlaksana karena Puteri Purnamasari telah ditikahkan kepada
putera mahkota Pajajaran Girang (Pulasari) kerajaan kecil bawahan Pajajaran
yaitu Raden Kumbang Bagus Setra. Dikarenakan hal tersebut maka Jaya Antea
dipecat dari jabatannya di kerajaan Pajajaran dan pergi ke Timur Tengah berbaur
dengan para pedagang dan berangkat ke tanah Arab selama 5 tahun untuk mendalami
agama Islam.
Sekembalinya Jaya Antea dari Timur
Tengah, Jaya Antea langsung mendatangi Sultan Banten dan mengaku sebagai putera
mahkota Pajajaran yang bermaksud akan membaktikan diri untuk melakukan syiar
Islam. Sultan Banten pun percaya dan memberinya tugas yang cukup berat yakni
mengislamkan kerajaan Pajajaran. Tugas itu dimanfaatkan Jaya Antea untuk
melakukan niat jahatnya merebut Puteri Purnamasari dari Raden Bagus Setra dan
tidak lagi melaksanakan tugas utamanya yaitu mengislamkan kerajaan Pajajaran.
Kerajaan Pajajaran bisa dengan
mudahnya diserang oleh kerajaan Islam Banten, Demak dan Cirebon atas bantuan
Jaya Antea yang membukakan pintu gerbang lawang gintung yang pada waktu itu
hanya bisa dibuka dari dalam kerajaan. Pada waktu itu Puteri Purnamasari sedang
mengandung 5 bulan dari suaminya Raden Bagus Setra. Kelompok ke empat inilah
yang menjadi asal-usul terbentuknya kota Palabuhanratu, yaitu Puteri
Purnamasari, Raden Bagus Setra dan Rakean Kalang Sunda, yang pada saat itu
diserang oleh Jaya Antea lalu pergi menyelamatkan diri ke daerah Pasir Jayanti,
karena dikejar oleh Jaya Antea yang masih mencintai Puteri Purnamasari sehingga
terjadilah perekelahian antara Jaya Antea dan Raden Bagus Setra selama 7 hari 7
malam. Karena kesaktian Jaya Antea lebih unggul maka Raden Bagus Setra dapat
dikalahkan dan dilemparkan kelautan hingga mengenai karang serta ombak sehingga
Raden Bagus Setra menemui ajalnya, pasir tersebut disebut Pasir Jayanti sebelah
barat Walungan Karang Pamulang.
Pada waktu terjadinya perkelahian antara Jaya Antea dengan
Raden Bagus Setra. Puteri Purnamasari berhasil diselamatkan oleh Rakean dan
disembunyikan dipesisir selatan Sungai Cimandiri. Setelah dianggap aman barulah
Rakean membuat rumah kecil untuk Puteri Purnamasari di pinggir mata air yang
mengalir airnya kelaut. Selain itu Rakean juga membuatkan bangunan kecil untuk
pemujaan di bawah pohon haur yang nama Sumur Haur Pamujangan (rumah nyai Puteri
dan Rakean di sebut Babakan Cidadap).
Pada waktu Puteri Purnamasari melahirkan, dia didampingi dan
dibantu oleh 3 orang tua (sesepuh kerajaan Pajajaran) yaitu: Ki Saragato, Ki
Sanaya, dan Ki Gandana karena pada saat iu Rakean disuruh untuk mencari Ambu
Beurang dan berangkat ke Lebak Cawene untuk menemui kakaknya Purnamasari
bernama Gandrung Arum yang sedang bertapa yang dibantu oleh 7 puteri atau
dayang. Tetapi Rakean tidak menemukan kakaknya Purnamasari karena tersesat di
jalan.
Rakean yang ditunggu tidak kunjung datang, Puteri Purnamasari
pun melahirkan dengan dibantu tiga sesepuh kerajaan dengan lancar. Sebelum
melahirkan, Puteri Purnamasari bermimpi bertemu dengan seorang nenek, namun
memiliki rupa yang cantik yaitu Nini Paraktrika, dalam mimpi tersebut, Nini
Paraktrika berkata bahwa Purnamasari akan melahirkan besok, bayinya seorang
perempuan dan harus diberi nama Mayangsari atau Mayang Sagara.
Selama Pemerintah Puun Purnamasari, sering terjadi
penyerangan oleh Bajo (bajak laut dari Nusa Barung Jawa Timur). Tetapi mereka
tidak berdaya karena keberanian dan kesaktian ilmu kanuragan yang dimiliki
Purnamasari serta kerjasama dengan masyarakat, sehinga tidak ada Bajo yang
tersisa semuanya ditumpas habis, akhirnya sejak saat itu tidak ada lagi yang
berani datang untuk menyerang masyarakat yang dipimpin oleh Purnamasari yang
kemudian dikenal dengan nama wilayah Cidadap Palabuan Nyai Ratu.
Pada saat Puteri Purnamasari sudah menjelang tua, kekuasaan Pemerintah
diserahkan kepada puterinya yaitu Mayangsari atau Mayang Sagara, tetapi karena
Puteri Mayang Sagara belum cukup dewasa maka dia dibantu oleh tiga sesepuh
yaitu Ki Saragato, Ki Gandana, dan Ki Sanaya (yang mendampingi Puteri
Mayangsari lahir). Sedangkan Puun Purnamasari berpindah dan bertapa di Desa
Kiara Papak, yang berlokasi di dekat sungai Cibuhun yang sekarang masuk Desa
Cicareuh kecamatan Warung Kiara.
Selama Pemerintah diserahkan ke tiga sesepuh, Cidadap
Palabuan Nyai Ratu mengalami kemunduran sehingga pusat Pemerintah dipindahkan
ke sebelah utara sungai Cimandiri (Palabuhanratu sekarang).
Setelah Mayang Sagara dewasa maka Pemerintah diserahkan
kembali dari tiga sesepuh tersebut kepada Puteri Mayang Sagara, yang kemudian
diberi gelar Nyai Ratu Kidul. Sedangkan nama Cidadap Palabuan Nyai Ratu setelah
dipimpin oleh Nyai Ratu Kidul diganti dengan nama Palabuan Nyai Ratu tidak
memakai Cidadap karena terlalu panjang dan supaya mudah diingat oleh masyarakat,
pergantian nama tersebut terjadi atas saran ke 3 sesepuh (lengser), maka atas
saran dan masukan ke 3 sesepuh serta persetujuan dari Nyai Ratu Kidul (Puteri
Mayangsari) pada tanggal 06 April 1580 M nama Palabuan Nyai Ratu berubah
menjadi Palabuanratu.
Sebagai seorang pemimpin, Puteri Mayangsari atau Mayang
Sagara, dikenal sangat dekat dengan masyarakatnya namun tetap disegani. Dia
selalu memberikan motivasi untuk mengelola sumber daya dan alam sekitar dengan
ramah dan tetap menghargai alam, terutama sumber daya laut. Karena 89 wilayang Pemerintah
Mayangsari sangat berhubungan langsung dengan laut selatan, serta mayoritas
penduduknya adalah nelayan.
Sebagai tonggak sejarah Puteri Mayangsari atau Mayang Sagara
maka setiap tanggal 06 April selalu melakukan acara “curak-curak atau nadran”.
(ritual versi mereka pada saat itu), sebagai perwujudan rasa syukur atas
limpahan rejeki yang didapat serta memohon keselamatan dan kesuburan. Acara
tersebut diawali dengan melakukan sayembara berburu menangkap seekor binatang
kijang “menjangan” di Gunung Jayanti. Kijang “menjangan” yang didapat, kemudian
disembelih dan kepalanya dibawa ketengah laut pada acara larung saji. Darah
dari kijang menjangan tersebut diambil oleh masyarakat nelayan dan
dioles-oleskan ke perahu mereka, hal ini memiliki maksud agar ikan bisa mencium
bau amis darah tersebut dan masuk ke teluk Palabuhanratu dan pada akhirnya ikan
pun mudah ditangkap.
Pada tahun 2002/2003, PEMDA DT 11 Kabupaten Sukabumi Pusat Pemerintah
Kabupaten Sukabumi dipindahkan ke Palabuhanratu, sekaligus menjadikan
Palabuhanratu sebagai ibu kota Kabupaten Sukabumi. Maka pada tanggal 06 April
(436 tahun silam, dari tahun 1580) masyarakat nelayan Palabuhanratu Sukabumi
Jawa Barat mengenang peristiwa tersebut dengan menggelar tradisi upacara adat
labuh saji. Meskipun baru 56 tahun yang lalu masyarakat nelayan secara resmi
menjadikan tanggal 06 April sebagai hari nelayan tetapi tidak menyurutkan
perjuangan nelayan untuk tetap berusaha melestarikan kebudayaan leluhur mereka.
* Konsep Upacara Adat
Labuh Saji
- Pengertian Labuh
Saji
Labuh saji berasal dari bahasa labuh
(melabuh atau menjatuhkan), saji (sesajen) ke laut, dengan harapan agar hasil
tangkapan laut berlimpah setiap tahun dan sebagai wujud syukur kepada sang
pencipta atas limpahan rejeki dan nikmat yang diterima, menjaga dan
melestarikan adat istiadat yang sudah turun-temurun dilakukan serta menjaga dan
membangun rasa solidaritas senasib sepenanggungan antar sesama nelayan. Labuh
saji seringkali diartikan sebagai pesta laut atau hari nelayan.
Sebagaian masyarakat berpendapat,
labuh saji berasal dari bahasa Sunda labuh yang berarti menjatuhkan, ini
dilatarbelakangi ketika seseorang hendak melakukan sesuatu dan berjanji pada
dirinya sendiri jika usahanya berhasil akan mengadakan selamatan yang biasa
disebut nadzar.
Dari nadzar itulah masyarakat nelayan Palabuhanratu mengadakan syukuran yang mereka sebut dengan nama labuh saji. Pada tanggal 07 April 2016 Upacara adat labuh saji tidak terlepas dari unsur-unsur ritual yang mengandung makna religius didalamnya, yaitu sebagai suatu permohonan akan keselamatan dan sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada yang maha pencipta. Masyarakat nelayan kelurahan Palabuhanratu sebagai masyarakat religius menyadari bahwa selama setahun penuh bekerja mencari nafkah di Samudra Indonesia, yang selalu menggantungkan seluruh kehidupannya kepada kemurahan alam sebagai anugrah Yang Maha Pemurah. Sebagai perwujudan rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat mengadakan upacara adat labuh saji setiap satu tahun sekali.






0 komentar:
Posting Komentar