PROSESI LABUH SAJI

Iringan Perahu dan Kapal untuk Melaksanakan Labuh Saji didamping oleh Puteri Nelayan.

PROSESI UPACARA ADAT

Mengilustrasikan Para Nelayan dengan melestarikan Budaya.

TARIAN PERSEMBAHAN DI PROSESI UPACARA ADAT

Upacara ada diikutsertakan Oleh Para Pelajar.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

KUNJUNGAN KEMENPAREKRAF H. SANDIAGA UNO SALAHUDIN

Memberikan Apresiasi untuk Warga Nelayan Palabuhanratu Masih Menjaga serta Melestarikan Budaya di Kabupaten Sukabumi.

Kamis, 24 Oktober 2024

TREASER PEMILIHAN PUTERI NELAYAN 2023


 

Hari Nelayan ke 64 Palabuhanratu Sukabumi 2024 | Festival & Gelar Budaya


 

FESTIVAL & GELAR BUDAYA HARI NELAYAN PALABUHANRATU KE 63 TAHUN 2023

Festival & Gelar Budaya Hari Nelayan ke 63 Palabuhanratu Sukabumi 2023 21 Mei 2023 terimakasih kepada semua pihak atas terselenggara dan suksesnya acara ini. video all right reserved by panitia hari nelayan palabuhanratu 63

Nisrina Nuriva Andini, Pelajar SMA Mutiara Palabuhanratu Ini Jadi Puteri Nelayan 2024


Setelah melalui proses panjang yang tak mudah,NISRINA NURIVA ANDINI berhasil menjadi yang terbaik dalam Pemilihan Puteri Nelayan ke 64 tahun 2024.

Nisrina, pelajar kelas 11 di SMA Mutiara Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi itu, anak ke 4 pasangan suami istri Rudiawan dan Leni Marlina warga kampung/ Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan.

Dalam grand final pemilihan puteri nelayan 2024, yang dilaksanakan pantia Hari Nelayan Palabuhanratu, Sabtu, (9/3) malam sekitar pukul 23.30 Wib, berhasil dinobatkan menjadi putri nelayan setelah menyisihkan 32 peserta.

Dengan dinobatkan menjadi puteri nelayan, Nisrina mengaku senang, bangga dan terharu, Ia tidak menyangka akan meraih titel tersebut ditengah puluhan peserta dari berbagai sekolah di kabupaten Sukabumi yang masuk dalam grand final.

"Perasaan saya senang, haru sedih, tidak bisa diungkapkan dengan kata kata perasaan saat ini, ini akan menjadi pengalaman yang sangat terbaik dalam hidup saya," ungkap Nisrina.

Nisrina juga tidak lupa mengucapkan terimakasihnya kepada orang yang mensupornya, salah satunya kedua orang tuanya yang selalu mendampingi mulai dari pendaftaran, karantina hingga grand final di gedung fridnanda jalan Sudirman Palabuhanratu.

"Dan tentunya terimakasih juga untuk orang tua teman teman, para guru guru yang mendukung, serta panitia pemilihan putri nelayan ini yang telah memberikan bimbingan terbaik selama karantina untuk pemilihan putri nelayan ini," jelasnya.

Setelah dinobatkan menjadi putri nelayan tahun 2024, Nisrina berjanji dan bertekad memberikan yang terbaik bagi kabupaten Sukabumi khususnya dalam dunia ke pariwisataan di Palabuhanratu yang masuk dalam kawasan CPUGGp (Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark).

Terlebih, kata Nisrina titel puteri nelayan yang kini disandangnya menjadi kebangaan pasalnya kegiatan atau peringatan syukuran hari nelayan ke 64 tahun 2024 ini masuk ajang KEN (Kharisma Event Nusantara) dari kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif republik Indonesia.

"Tentu saja ini menjadi kebanggaan, baik saya secara pribadi maupun masyarakat kabupaten Sukabumi, khususnya Palabuhanratu," terangnya.

Ia akan menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, melalui instansi intansi terkait lainnya dalam upaya meningkatkan ke Pariwisataan di Kabupaten Sukabumi, serta membantu meningkatkan derajat para nelayan.

"Insya Allah saya akan bekerja sama juga dengan Kementerian Perikanan dan kepolisian laut agar dapat memberikan peran dalam meningkatkan derajat para nelayan," ucapnya.

Sementara itu Rusdiawan (50) ayah dari Nisrina mengaku turut bangga dan senang anaknya dinobatkan sebagai puteri nelayan tahun 2024, Ia tidak menyangka anaknya akan terplih yang terbaik dari 32 peserta yang masuk grand final.

"Alhamdulillah sangat senang sekali, sangat bangga sekali, mudah-mudahan ini akan menjadi sebuah acuan prestasinya sendiri kedepan lebih baik lagi, lebih sukses lagi di bidang prestasi kedepannya," timpalnya.

"Dia (Nisrina -red) mengikuti pemilihan puteri nelayan ga ada cerita cita cita ke keluarga, dia ikut dadakan, terus karantina, ya kami keluarga sangat mensuport. Ini anak anak bungsu dari tiga bersaudara," tandasnya. (Ndi)

Rabu, 23 Oktober 2024

SEJARAH HARI NELAYAN PALABUHANRATU

 

Selayang Pandang Sejarah Hari Nelayan Palabuhanratu

Sejarah ini diawali pada saat runtuhnya kerajaan Pajajaran pada tahun 1449 Saka=tahun 1527 M yang dipimpin oleh Prabu Surawisesa atau Ratu Sanghyang Portugis disebut Ratu Samiam (pantun Bogor-arkais).

Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Surawisesa, pada waktu itu digempur dan diserang oleh pasukan Islam Banten, Demak dan Cirebon, karena Prabu Surawisesa tidak mau memeluk agama Islam. Sehingga ada seorang prajurit yang berkhianat atas perintah Jaya Antea yang sudah masuk Islam dan belajar pesantren di daerah Banten (bekas prajurit atau kopassus pajajaran) yang diperintahkan membuka lawang gintung atau pintu gerbang yang hanya bisa dibuka di dalam kerajaan.

Kerajaan Pajajaran di bumi hanguskan dan dibakar habis tidak tersisa, karena kerajaan Pajajaran bangunannya terbuat dari kayu dan bambu. Oleh karena itu, hingga saat ini tidak terdapat situs atau peninggalan rerun Tuhan kerajaan Pajajaran. Sedangkan raja dengan keluarganya serta para prajuritnya terpaksa mengungsi dan menyelamatkan diri menjadi empat kelompok.

Kelompok pertama dipimpin oleh raja Prabu Surawisesa, ini adalah kelompok paling banyak, mereka pergi ke daerah Tegal Buleud (Sukabumi Kidul sekarang) yang sebelumnya akan menuju Nusalarang (pulau yang diakui oleh Australia yaitu Chrismast Island) tetapi tidak jadi karena pada saat perjalanan mengunakan perahu melewati laut kidul diterjang ombak besar dan perahu mereka hancur berantakan sehingga mereka ada yang kembali lagi ke daerah dekat kraton kerajaan Pajajaran (Bogor dan sekitarnya), ada yang ke wilayah Garut Wetan (yang kemudian membuat kerajaan kecil Sancang Garut) dan sebagian ada yang ke Ujung Kulon dan sebagian kecil juga ada yang ikut Raja Pajajaran karena mereka ingin bertapa sampai akhir hayatnya.

Kelompok ke dua dipimpin oleh tiga bangsawan (gegeden) Bareusan Panganginan (pasukan husus penjaga pakuan atau pengawal istana) yaitu: Demang Haurtangtu, Puun Buluh Panunjang, dan Guru Alas Lintang Kendesan. Mereka membuat kelompok masyrakat yang disebut pager panganginan (kampung Urus, Desa Kiara Pandak Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Kaler) dan sekarang pusatnya di kampung Citorek Kecamatan Bayah, dan di Sukabumi Kidul yang berpusat di kampung Ciptarasa Kecamatan Cisolok. Walaupun terbagi menjadi tiga wilayah yang berbeda tetapi mereka tetap bersatu dan tidak bisa dipisahkan, sehingga mereka menyebut dengan Kesatuan Banten Kidul.

Kelompok ke tiga dipimpin oleh Prabu Anom Yuwaraja putra mahkota Rahyang Santang Aria Cakrabuana (bukan Kian Santang) mereka pergi menuju daerah sebelah kulon (barat) dan sekarang jadi kapuunan dengan masyarakat Tangtu Parahyangan yang pusatnya di kampung Cibeo desa Kanekes kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak.

Kelompok ke empat yang dipimpin Purnamasari (puteri bungsu Raja Pajajaran dari istri yang ke 7) dan suaminya Rahyang Kumbang Bagus Setra, dan didampingi oleh seorang puragabaya (kopasus) yang bernama Rakean Kalang Sunda. Kelompok ke empat inilah yang menjadi cikal bakal adanya asal mula kota Palabuhanratu yang pigur utamanya yaitu Putri Purnamasari.

Dikisahkan dalam pengungsiannya, Putri Purnamasari dikejar terus oleh Jaya Antea (mantan mantri majeuti atau MENSESNEG sekarang) yang pada waktu itu sudah masuk Islam dan bergelar Syeikh Al Kowana, karena Jaya Antea sangat mencintai Puteri Purnamasari, tetepai cintanya tidak terlaksana karena Puteri Purnamasari telah ditikahkan kepada putera mahkota Pajajaran Girang (Pulasari) kerajaan kecil bawahan Pajajaran yaitu Raden Kumbang Bagus Setra. Dikarenakan hal tersebut maka Jaya Antea dipecat dari jabatannya di kerajaan Pajajaran dan pergi ke Timur Tengah berbaur dengan para pedagang dan berangkat ke tanah Arab selama 5 tahun untuk mendalami agama Islam.

Sekembalinya Jaya Antea dari Timur Tengah, Jaya Antea langsung mendatangi Sultan Banten dan mengaku sebagai putera mahkota Pajajaran yang bermaksud akan membaktikan diri untuk melakukan syiar Islam. Sultan Banten pun percaya dan memberinya tugas yang cukup berat yakni mengislamkan kerajaan Pajajaran. Tugas itu dimanfaatkan Jaya Antea untuk melakukan niat jahatnya merebut Puteri Purnamasari dari Raden Bagus Setra dan tidak lagi melaksanakan tugas utamanya yaitu mengislamkan kerajaan Pajajaran.

Kerajaan Pajajaran bisa dengan mudahnya diserang oleh kerajaan Islam Banten, Demak dan Cirebon atas bantuan Jaya Antea yang membukakan pintu gerbang lawang gintung yang pada waktu itu hanya bisa dibuka dari dalam kerajaan. Pada waktu itu Puteri Purnamasari sedang mengandung 5 bulan dari suaminya Raden Bagus Setra. Kelompok ke empat inilah yang menjadi asal-usul terbentuknya kota Palabuhanratu, yaitu Puteri Purnamasari, Raden Bagus Setra dan Rakean Kalang Sunda, yang pada saat itu diserang oleh Jaya Antea lalu pergi menyelamatkan diri ke daerah Pasir Jayanti, karena dikejar oleh Jaya Antea yang masih mencintai Puteri Purnamasari sehingga terjadilah perekelahian antara Jaya Antea dan Raden Bagus Setra selama 7 hari 7 malam. Karena kesaktian Jaya Antea lebih unggul maka Raden Bagus Setra dapat dikalahkan dan dilemparkan kelautan hingga mengenai karang serta ombak sehingga Raden Bagus Setra menemui ajalnya, pasir tersebut disebut Pasir Jayanti sebelah barat Walungan Karang Pamulang.

Pada waktu terjadinya perkelahian antara Jaya Antea dengan Raden Bagus Setra. Puteri Purnamasari berhasil diselamatkan oleh Rakean dan disembunyikan dipesisir selatan Sungai Cimandiri. Setelah dianggap aman barulah Rakean membuat rumah kecil untuk Puteri Purnamasari di pinggir mata air yang mengalir airnya kelaut. Selain itu Rakean juga membuatkan bangunan kecil untuk pemujaan di bawah pohon haur yang nama Sumur Haur Pamujangan (rumah nyai Puteri dan Rakean di sebut Babakan Cidadap).

Pada waktu Puteri Purnamasari melahirkan, dia didampingi dan dibantu oleh 3 orang tua (sesepuh kerajaan Pajajaran) yaitu: Ki Saragato, Ki Sanaya, dan Ki Gandana karena pada saat iu Rakean disuruh untuk mencari Ambu Beurang dan berangkat ke Lebak Cawene untuk menemui kakaknya Purnamasari bernama Gandrung Arum yang sedang bertapa yang dibantu oleh 7 puteri atau dayang. Tetapi Rakean tidak menemukan kakaknya Purnamasari karena tersesat di jalan.

Rakean yang ditunggu tidak kunjung datang, Puteri Purnamasari pun melahirkan dengan dibantu tiga sesepuh kerajaan dengan lancar. Sebelum melahirkan, Puteri Purnamasari bermimpi bertemu dengan seorang nenek, namun memiliki rupa yang cantik yaitu Nini Paraktrika, dalam mimpi tersebut, Nini Paraktrika berkata bahwa Purnamasari akan melahirkan besok, bayinya seorang perempuan dan harus diberi nama Mayangsari atau Mayang Sagara.

Selama Pemerintah Puun Purnamasari, sering terjadi penyerangan oleh Bajo (bajak laut dari Nusa Barung Jawa Timur). Tetapi mereka tidak berdaya karena keberanian dan kesaktian ilmu kanuragan yang dimiliki Purnamasari serta kerjasama dengan masyarakat, sehinga tidak ada Bajo yang tersisa semuanya ditumpas habis, akhirnya sejak saat itu tidak ada lagi yang berani datang untuk menyerang masyarakat yang dipimpin oleh Purnamasari yang kemudian dikenal dengan nama wilayah Cidadap Palabuan Nyai Ratu.

Pada saat Puteri Purnamasari sudah menjelang tua, kekuasaan Pemerintah diserahkan kepada puterinya yaitu Mayangsari atau Mayang Sagara, tetapi karena Puteri Mayang Sagara belum cukup dewasa maka dia dibantu oleh tiga sesepuh yaitu Ki Saragato, Ki Gandana, dan Ki Sanaya (yang mendampingi Puteri Mayangsari lahir). Sedangkan Puun Purnamasari berpindah dan bertapa di Desa Kiara Papak, yang berlokasi di dekat sungai Cibuhun yang sekarang masuk Desa Cicareuh kecamatan Warung Kiara.

Selama Pemerintah diserahkan ke tiga sesepuh, Cidadap Palabuan Nyai Ratu mengalami kemunduran sehingga pusat Pemerintah dipindahkan ke sebelah utara sungai Cimandiri (Palabuhanratu sekarang).

Setelah Mayang Sagara dewasa maka Pemerintah diserahkan kembali dari tiga sesepuh tersebut kepada Puteri Mayang Sagara, yang kemudian diberi gelar Nyai Ratu Kidul. Sedangkan nama Cidadap Palabuan Nyai Ratu setelah dipimpin oleh Nyai Ratu Kidul diganti dengan nama Palabuan Nyai Ratu tidak memakai Cidadap karena terlalu panjang dan supaya mudah diingat oleh masyarakat, pergantian nama tersebut terjadi atas saran ke 3 sesepuh (lengser), maka atas saran dan masukan ke 3 sesepuh serta persetujuan dari Nyai Ratu Kidul (Puteri Mayangsari) pada tanggal 06 April 1580 M nama Palabuan Nyai Ratu berubah menjadi Palabuanratu.

Sebagai seorang pemimpin, Puteri Mayangsari atau Mayang Sagara, dikenal sangat dekat dengan masyarakatnya namun tetap disegani. Dia selalu memberikan motivasi untuk mengelola sumber daya dan alam sekitar dengan ramah dan tetap menghargai alam, terutama sumber daya laut. Karena 89 wilayang Pemerintah Mayangsari sangat berhubungan langsung dengan laut selatan, serta mayoritas penduduknya adalah nelayan.

Sebagai tonggak sejarah Puteri Mayangsari atau Mayang Sagara maka setiap tanggal 06 April selalu melakukan acara “curak-curak atau nadran”. (ritual versi mereka pada saat itu), sebagai perwujudan rasa syukur atas limpahan rejeki yang didapat serta memohon keselamatan dan kesuburan. Acara tersebut diawali dengan melakukan sayembara berburu menangkap seekor binatang kijang “menjangan” di Gunung Jayanti. Kijang “menjangan” yang didapat, kemudian disembelih dan kepalanya dibawa ketengah laut pada acara larung saji. Darah dari kijang menjangan tersebut diambil oleh masyarakat nelayan dan dioles-oleskan ke perahu mereka, hal ini memiliki maksud agar ikan bisa mencium bau amis darah tersebut dan masuk ke teluk Palabuhanratu dan pada akhirnya ikan pun mudah ditangkap.

Pada tahun 2002/2003, PEMDA DT 11 Kabupaten Sukabumi Pusat Pemerintah Kabupaten Sukabumi dipindahkan ke Palabuhanratu, sekaligus menjadikan Palabuhanratu sebagai ibu kota Kabupaten Sukabumi. Maka pada tanggal 06 April (436 tahun silam, dari tahun 1580) masyarakat nelayan Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat mengenang peristiwa tersebut dengan menggelar tradisi upacara adat labuh saji. Meskipun baru 56 tahun yang lalu masyarakat nelayan secara resmi menjadikan tanggal 06 April sebagai hari nelayan tetapi tidak menyurutkan perjuangan nelayan untuk tetap berusaha melestarikan kebudayaan leluhur mereka.

*  Konsep Upacara Adat Labuh Saji

-  Pengertian Labuh Saji

Labuh saji berasal dari bahasa labuh (melabuh atau menjatuhkan), saji (sesajen) ke laut, dengan harapan agar hasil tangkapan laut berlimpah setiap tahun dan sebagai wujud syukur kepada sang pencipta atas limpahan rejeki dan nikmat yang diterima, menjaga dan melestarikan adat istiadat yang sudah turun-temurun dilakukan serta menjaga dan membangun rasa solidaritas senasib sepenanggungan antar sesama nelayan. Labuh saji seringkali diartikan sebagai pesta laut atau hari nelayan.

Sebagaian masyarakat berpendapat, labuh saji berasal dari bahasa Sunda labuh yang berarti menjatuhkan, ini dilatarbelakangi ketika seseorang hendak melakukan sesuatu dan berjanji pada dirinya sendiri jika usahanya berhasil akan mengadakan selamatan yang biasa disebut nadzar.

Dari nadzar itulah masyarakat nelayan Palabuhanratu mengadakan syukuran yang mereka sebut dengan nama labuh saji. Pada tanggal 07 April 2016 Upacara adat labuh saji tidak terlepas dari unsur-unsur ritual yang mengandung makna religius didalamnya, yaitu sebagai suatu permohonan akan keselamatan dan sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada yang maha pencipta. Masyarakat nelayan kelurahan Palabuhanratu sebagai masyarakat religius menyadari bahwa selama setahun penuh bekerja mencari nafkah di Samudra Indonesia, yang selalu menggantungkan seluruh kehidupannya kepada kemurahan alam sebagai anugrah Yang Maha Pemurah. Sebagai perwujudan rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat mengadakan upacara adat labuh saji setiap satu tahun sekali.